Culture On Screen Screen Spotlight
16 Feb 2026
Admin Reeledupark

Cinta di Dear Nathan: Romantis atau Toxic?

“Dear Nathan” (2017), film yang disutradarai Indra Gunawan, merupakan adaptasi novel best-seller karya Erisca Febriani. Film ini mengisahkan cinta Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles). Nathan adalah siswa bermasalah yang sering berkelahi, sementara Salma cerdas dan berprestasi. Pertemuan mereka di sekolah berawal dari insiden kecil yang berkembang menjadi hubungan penuh dinamika. Dengan nuansa romansa remaja yang intens, “Dear Nathan” berhasil menarik perhatian penonton Indonesia. Namun, di balik kisah cintanya yang emosional, muncul pertanyaan: apakah hubungan mereka romantis atau toxic?

Cinta di Dear Nathan: Romantis atau Toxic?

Dalam “Dear Nathan”, Nathan digambarkan sebagai sosok agresif dan emosional. Ia kerap bersikap posesif terhadap Salma dan cenderung mengontrol pasangannya. Di awal hubungan, Nathan bahkan mendekati Salma dengan cara memaksa, termasuk mengintimidasi siswa lain. Masa lalu Nathan yang kelam bukanlah pembenaran atas tindakannya yang merujuk pada hubungan yang tidak sehat.

Pada awalnya, Salma menolak saat didekati Nathan karena menyadari perbedaan dunia antara mereka. Namun, hatinya mulai luluh atas usaha dan perhatian Nathan. Dalam Dear Nathan, sikap protektif Nathan dianggap sebagai cinta yang tulus. Padahal, perilaku tersebut dapat berujung pada unhealthy relationships di realita.

Salah satu momen yang menunjukkan dinamika hubungan mereka adalah ketika Nathan meledak emosinya saat Salma mencoba menjaga jarak. Bukannya memberi ruang, Nathan justru menekan dan membuat Salma merasa bersalah. “Kalau lo pergi, gue gak tahu bakal jadi apa,” ucap Nathan dalam salah satu adegan. Sikap ini mencerminkan ketergantungan emosional yang berlebihan, yang merupakan ciri dari toxic relationship.

Namun, “Dear Nathan” juga menampilkan sisi lain Nathan yang menunjukkan bahwa ia mampu berubah dan menghadapi traumanya. Dengan dukungan Salma, ia belajar mengelola emosinya dan memahami batasan dalam hubungan. “Gue gak mau kehilangan lo, tapi gue juga gak mau lo ngerasa terpaksa,” kata Nathan, menunjukkan usahanya menjadi lebih baik.

Dengan konflik emosional dan kisah cinta yang menguras perasaan, “Dear Nathan” menjadi salah satu film remaja paling berkesan. Namun, bagi penonton yang lebih kritis, film ini bisa menjadi refleksi tentang hubungan yang sehat. Apakah cinta Nathan dan Salma benar-benar romantis atau berbahaya? Jawabannya tergantung perspektif masing-masing.

Bagi yang ingin menyaksikan kisah cinta penuh drama ini, “Dear Nathan” dapat ditonton di Vidio.


A

Admin Reeledupark

Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.

Artikel Terkait

Chihayafuru: Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Atas Kartu Karuta
Culture On Screen
22 Jun 2026

Chihayafuru: Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Atas Kartu Karuta

Chihayafuru adalah serial yang ditulis dan diilustrasikan oleh Yuki Suetsugu. Seri ini sukses memikat hati penonton lewat ketegangan sebuah permainan kartu tradisional Jepang bernama Karuta. Kisah utamanya mengikuti perjalanan tiga karakter utama sejak masa kecil hingga bangku SMA yang terikat dalam semangat kompetisi dan cinta segitiga.

Sederet Kisah Triangle Love dalam Film yang Bikin Gemas hingga Frustasi, Mana Favorite Kamu?
Screen Spotlight
16 Jun 2026

Sederet Kisah Triangle Love dalam Film yang Bikin Gemas hingga Frustasi, Mana Favorite Kamu?

Sering dibuat gemas sekaligus frustasi sama kisah cinta segitiga di film? Membayangkan posisinya saja sudah bikin dilema, apalagi kalau harus memilih! Dari Kuch Kuch Hota Hai sampai The Summer I Turned Pretty, yuk nostalgia lagi dengan deretan cerita yang menguras emosi dan bikin kamu terpaksa "pindah kubu" berkali-kali. Mana nih kisah cinta segitiga yang paling membekas di hati kamu?