Culture On Screen
22 Jun 2026
Nazla Monri

Chihayafuru: Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Atas Kartu Karuta

Chihayafuru adalah serial yang ditulis dan diilustrasikan oleh Yuki Suetsugu. Seri ini sukses memikat hati penonton lewat ketegangan sebuah permainan kartu tradisional Jepang bernama Karuta. Kisah utamanya mengikuti perjalanan tiga karakter utama sejak masa kecil hingga bangku SMA yang terikat dalam semangat kompetisi dan cinta segitiga.

Chihayafuru: Cinta, Persahabatan, dan Ambisi di Atas Kartu Karuta

Chihaya Ayase, seorang gadis yang memiliki ambisi besar untuk menjadi "Queen" (pemain wanita nomor satu) di dunia Karuta berkat kemampuan pendengarannya yang sangat tajam. Perkenalannya ini dimulai berkat Arata Wataya, anak baru di sekolahnya yang memiliki bakat jenius karena kakeknya adalah seorang Master Karuta. Langkah mereka kemudian diikuti oleh Taichi Mashima, teman masa kecil Chihaya yang pintar dan serba bisa. Demi bisa mengejar ketertinggalannya dari Chihaya dan Arata sekaligus karena diam-diam memendam perasaan pada Chihaya, Taichi pun ikut terjun dan berjuang keras di dunia Karuta. Namun, di balik drama remaja yang intens tersebut, apa sebenarnya Karuta itu?


Karuta adalah permainan kartu tradisional Jepang di mana pemain berlomba mengambil kartu yang cocok setelah pembaca melantunkan petunjuk, seperti puisi atau peribahasa. Uniknya, nama "Karuta" sendiri berasal dari bahasa Portugis, yaitu "carta" (kartu), yang diperkenalkan oleh pedagang asing ke Jepang pada pertengahan abad ke-16. Pada zaman Muromachi tersebut, pedagang Portugis membawa permainan kartu trik ke Jepang.


(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DvjKqh-WPbQ&list=PLPanbgyToztbsrJNq7sR7rtSE2aTLD1Lb&index=23)


Varian Karuta yang kita lihat di dalam kisah Chihayafuru adalah Uta-Karuta (atau Hyakunin Isshu). Permainan ini menggunakan antologi 100 puisi klasik Jepang yang dikumpulkan oleh penyair Fujiwara no Teika pada tahun 1235. Ketika dimainkan secara kompetitif (Kyogi Karuta), aturan mainnya menjadi sangat cepat dan sangat mengandalkan kekuatan memori serta refleks fisik yang luar biasa.


Memasuki era modern, permainan ini telah berkembang jauh lebih serius. Seasli yang digambarkan dalam ambisi Chihaya untuk menjadi nomor satu, sejak berdirinya Asosiasi Karuta Seluruh Jepang pada tahun 1957, kompetisi karuta memang telah resmi menjadi olahraga pikiran yang serius dengan turnamen nasional berskala besar yang rutin diadakan setiap tahun.


(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ieEl5UErYpM&list=PLPanbgyToztbsrJNq7sR7rtSE2aTLD1Lb&index=21)


Permainan ini ada Yomifuda yang bertugas membaca kartu berisi puisi lengkap yang dipegang, serta terdapat 2 pemain yang duduk di depan Torifuda (kartu di lantai berisi bait bawah dalam huruf Hiragana untuk diperebutkan pemain). Dari total 100 kartu, hanya 50 kartu yang diikutkan dalam permainan, di mana masing-masing pemain akan menyusun 25 kartu secara acak di hadapan mereka dalam tiga baris, lalu diberikan waktu 15 menit untuk menghafal posisi seluruh kartu tersebut. Pemenang mutlak adalah pemain yang berhasil mengosongkan seluruh kartu di area bermainnya sendiri terlebih dahulu.



(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=u_dKYtcQuis&list=PLPanbgyToztbsrJNq7sR7rtSE2aTLD1Lb&index=24)


Di balik keindahannya, Karuta melampaui sekadar adu memori dan ketajaman pendengaran. Permainan ini harus berjalan selaras antara pikiran dan refleks tangan secepat kilat. Begitu intensnya kompetisi ini, gesekan fisik yang kuat di atas tatami membuat cedera tangan menjadi risiko yang tak terhindarkan bagi para pemain demi meraih kemenangan.


(Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DvjKqh-WPbQ&list=PLPanbgyToztbsrJNq7sR7rtSE2aTLD1Lb&index=23)


Lewat Chihayafuru, kita tidak hanya diajak menyaksikan pertumbuhan karakter Chihaya, Arata, dan Taichi, tetapi juga melihat bagaimana sebuah tradisi puisi abad ke-13 berhasil bertahan dan menjelma menjadi olahraga modern yang penuh perjuangan dan air mata.


N

Nazla Monri

Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.

Artikel Terkait

Tampil Ala Dilan? Ini Tips Gaya Fashion Anak Motor Era 90-an!
Culture On Screen
16 Feb 2026

Tampil Ala Dilan? Ini Tips Gaya Fashion Anak Motor Era 90-an!

Gaya anak motor era 90-an memang punya ketertarikan tersendiri yang tak lekang oleh waktu. Kesan vintage seperti style ala Grunge 90-an dengan kemeja flanel, jeans robek, sepatu boots, dan pakaian oversized menjadi trend muda mudi kala itu. Seperti geng Dilan yang eksis di era 90-an awal, bergaya dengan memadukan beberapa item seperti jaket dan celana jeans, jaket kulit, dan sepatu boots atau sneakers klasik yang ikonik. Gaya bebas dan petualang ala Dilan menjadi ciri khas anak motor era 90-an. Jika tertarik dengan gaya klasik ini, berikut item recommendations untuk Kamu yang tertarik gaya klasiknya!