Bukan Sekadar Film: Para Perasuk dan Sisi Nyata Budaya Hipnotis Tradisional di Indonesia
Film Para Perasuk (2026) menjadi karya terbaru yang paling dinantikan dari sutradara Wregas Bhanuteja. Lewat film ini, Wregas mengajak kita masuk ke dalam genre drama dengan sentuhan psikologis. Film ini menandai debut akting layar lebar penyanyi Anggun C. Sasmi, serta berhasil memenangi penghargaan CJ ENM pada Asian Project Market (APM) 2024.
Sinopsis film ini menceritakan tentang Desa Latas, sebuah perkampungan di pinggiran Jakarta yang memiliki tradisi unik berupa pesta kesurupan massal yang dirayakan dengan sukacita dan menjadi sumber kebanggaan warga. Namun, kehidupan harmonis desa itu mulai terusik ketika sumber mata air desa yang dipercaya sebagai sumber tempat tinggal roh hendak dibeli oleh perusahaan besar untuk dijadikan hotel.
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, kita akan mengikuti kisah Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda desa yang ambisius dan bermimpi untuk bisa menjadi seorang perasuk. Sayangnya, ambisi Bayu harus terkendala pada pilihan sulit, apakah ia harus membuktikan diri kepada Sang Ayah (Indra Birowo), menjaga persahabatan, atau justru melindungi tanah kelahirannya dari keserakahan penguasa.
Di balik konflik perebutan lahan dan dilema personal Bayu, film ini sebenarnya menyentil realitas tentang "budaya hipnotis" tradisional yang sampai sekarang masih sering kita temui di Indonesia. Berikut adalah ragam kultur yang dieksplorasi secara mendalam di film ini:
1. Pesta Sambetan
Di film ini, fenomena kesurupan massal warga Desa Latas dikenal dengan istilah Pesta Sambetan. Berbeda dari pandangan modern yang melihat kesurupan sebagai musibah, di desa ini ritual tersebut justru dirayakan dengan sukacita. Sutradara menggunakan kultur "Sambetan" ini sebagai simbol bagaimana tradisi bisa "merasuki" pikiran banyak orang sekaligus.
2. Jampi-Jampi dan Mantra Di Indonesia,
Kultur kita percaya masih mempercayai kalau mantra punya kekuatan gaib yang besar. Di film para perasuk, alunan 20 mantra dari berbagai roh hewan dipakai untuk mengontrol pikiran warga Desa Latas secara halus. Sekali mantra dibacakan, akal sehat para korbannya perlahan mereka hanyut dalam pesta sambetan.
3. Fenomena Kondisi Kerasukan
Kondisi di mana seseorang mulai kehilangan kesadaran seutuhnya. Lewat kombinasi wewangian kemenyan, makanan, hingga alunan mantra yang diiringi alat musik, warga desa dibawa masuk ke dalam kondisi kerasukan. Di sinilah batas antara kesurupan murni dan hipnotis massal yang manipulatif terlihat kabur.
4. Kehilangan Kendali Diri demi Kesenangan Sesaat
Budaya hipnotis membuat korbannya kehilangan hak atas tubuh mereka sendiri. Pada film Para Perasuk tujuan kegiatan ini semata-mata untuk melepas penat, bersenang senang, dan tempat melampiaskan perasaan. Istilah, warga desa seperti terkena gendam atau sirep massal, di mana akal sehat sengaja dimatikan sebentar lewat mantra agar mereka dapat puas berteriak dan menari bersama-sama
Cerita menarik selengkapnya tentang film Para Perasuk dapat kembali disaksikan di platform digital kesayangan kalian!
Nazla Monri
Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.