Jiwa Seni Bangsa Indonesia Terus Hidup dan Berevolusi
Dari ritus kuno hingga panggung digital, kesenian Indonesia tak pernah berhenti bernapas dan berevolusi.
Kategori
Dari ritus kuno hingga panggung digital, kesenian Indonesia tak pernah berhenti bernapas dan berevolusi.
Menonton kembali film Bollywood seakan membangkitkan kembali memori masa kecil bagi sebagian orang. Unsur musikal dan budaya yang kuat, menjadi ciri khas yang otentik dari setiap film Bollywood. Salah satu yang menarik perhatian adalah Festival Holi yang ditampilkan dalam salah satu scene ikonis film Mohabbatein.
Film dokumenter Lima Pare karya sineas muda asal Pandeglang, Banten, berhasil menembus kancah internasional dan mengharumkan nama Indonesia. Film ini mengangkat kisah ketahanan pangan masyarakat adat baduy dan bagaimana kearifan lokal mereka dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan pendekatan yang autentik dan penuh makna, Lima Pare menggambarkan filosofi kehidupan suku baduy yang erat dengan alam dan budaya leluhur.
As the film industry confronts its ecological impact, a growing push towards sustainable practices is gaining traction. Filmmakers are increasingly recognizing the importance of environmentally friendly production techniques, from using renewable energy on set to minimizing waste.
Jika menonton film yang berlatar tentang sejarah Indonesia, khususnya berlokasi di tanah Jawa, tentunya sudah tidak asing dengan tokoh wanita yang menggunakan kebaya sebagai busana sehari-hari. Dua contoh film tanah air yang memperlihatkan penggunaan kebaya seperti film Kartini (2017) dan Bumi Manusia (2019), menjadi elemen penting sebagai bentuk representasi budaya, terutama di era kolonialisme.
Ragam kuliner lezat khas India menjadi latar belakang Sameer Sharma dalam debutnya menjadi sutradara. Film pertamanya berjudul Luv Shuv Tey Chicken Khurana menjadi film Bollywood pertama yang memiliki unsur kuliner, ciri khas dari Sameer sebagai sutradara. Memiliki latar belakang keluarga dan budaya dari Punjab, film tersebut menyajikan petualangan rasa dari kuliner otentik khas Punjab, India.
“Dear Nathan” (2017), film yang disutradarai Indra Gunawan, merupakan adaptasi novel best-seller karya Erisca Febriani. Film ini mengisahkan cinta Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles). Nathan adalah siswa bermasalah yang sering berkelahi, sementara Salma cerdas dan berprestasi. Pertemuan mereka di sekolah berawal dari insiden kecil yang berkembang menjadi hubungan penuh dinamika. Dengan nuansa romansa remaja yang intens, “Dear Nathan” berhasil menarik perhatian penonton Indonesia. Namun, di balik kisah cintanya yang emosional, muncul pertanyaan: apakah hubungan mereka romantis atau toxic?