Tak Sekedar Jadi Pengguna, Yusak Arief Ajak Gen Z Kuasai AI di Workshop Future Film Maker 2026
Yusak Arief punya jawaban berbeda. Dalam Future Film Maker 2026, ia mengajak Gen Z melihat AI sebagai co-writer, bukan pengganti kreativitas manusia. Lewat berbagai strategi praktis dan etika penggunaan AI, peserta diajak menjadi kreator yang mampu berkolaborasi dengan teknologi, bukan bergantung padanya.
AI saat ini telah familiar digunakan oleh masyarakat untuk membantu dalam beberapa aktivitas, seperti pekerjaan maupun pendidikan. Data survey APJII 2025 menyatakan bahwa Gen Z unggul dalam penggunaan AI sebanyak 48,89% untuk belajar, sementara 25,89% untuk hiburan melalui gambar dan video, serta 12,21% lainnya digunakan untuk penulisan dan analisis data. Hal tersebut memperlihatkan bahwa tingginya minat Gen Z menggunakan AI mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Adanya fenomena AI tentunya melahirkan pro dan kontra dari sisi moral maupun profesional. Dalam situasi tersebut, Yusak Arief justru berhasil memanfaatkan AI sebagai alat yang mudah dikendalikan. Yusak Arief merupakan Creative Director di Canting Creative Agency, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri kreatif dan marketing, serta telah bekerja sama dengan lebih dari 80 brand.
Kehadiran Yusak sebagai pembicara di workshop Storyteller & Generative AI dalam program Future Film Maker 2026 disambut hangat oleh peserta dari kalangan Gen Z. Workshop tersebut diselenggarakan secara daring pada tanggal 12 April 2026, dan membahas tentang cara cerdas dan bijak dalam menggunakan AI.
Yusak menyampaikan sejumlah poin yang menarik, seperti orchestrator of ideas yang berarti bahwa AI dapat menjadi partner untuk membantu riset, menulis, menggambar, bahkan mengedit. AI perlu diposisikan sebagai co-writer, bukan ghost writer. Menurutnya, kolaborasi antara individu yang kreatif dan AI dapat menjadi sumber daya yang unggul di industri kerja.
Yusak mengajak Gen Z untuk sadar bahwa kita yang memegang kendali, melalui analogi “you are the chef”, karena AI hanya sebagai alat masak, bukan bumbu utama maupun sosok yang menentukan cita rasa sebuah karya.
Peserta diarahkan untuk memahami praktik AI dalam rangkaian produksi film, mulai dari pra hingga pasca produksi. Ia membagikan resep untuk membuat scripting dan storyboarding menggunakan AI, yaitu RCTS (Role + Context + Task + Style) dan SAELC (Subject + Action + Environment + Lighting + Camera). Metode tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pra produksi film agar lebih efektif dan terarah.
Selanjutnya, Ia juga memaparkan bantuan AI dalam tahap produksi film seperti untuk auto-tracking, virtual production, dan membuat footage pendukung tanpa perlu syuting tambahan.
Selanjutnya pada pasca produksi, AI dimanfaatkan pada color grading dan dubbing. Hasil karya tersebut saat ini juga ramai dibuat oleh para kreator digital di media sosial. Pemaparan AI dalam film ini juga akan diwujudkan dalam kerja sama di film pendek Suara Dara.
Di samping membagikan berbagai strategi penggunaan AI, Yusak juga mengajak peserta untuk memahami etika di balik pemanfaatannya. Terdapat 7 panduan penggunaan AI yang aman dan bijak.
- Cek fakta dan hindari halusinasi data
- perhatikan hak cipta untuk setiap karya yang dibuat
- menggunakan AI bukan berarti copy paste
- karya wajib bersifat humanis (human touch)
- angan claim hasil AI sebagai 100% karya orisinil manusia
- jangan menggunakan wajah orang tanpa izin
- konsep hybrid yaitu Human + Human & AI, bukan AI + Human
Jadi, sudah bijak kah kamu dalam menggunakan AI?
Ammara Meena
Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.