News Event
04 Jul 2026
Ammara Meena

Closing 26 Tahun Europe on Screen Hadirkan Film Rumania Pertama yang Tembus Festival, hingga Tiga Besar Naskah Film Pendek Terbaik Karya Anak Bangsa

Lebih dari sekadar pemutaran film, Europe on Screen 2026 kembali membuktikan dirinya sebagai jembatan budaya yang menghubungkan Indonesia dengan perspektif unik Eropa melalui 55 karya sinema.

Closing 26 Tahun Europe on Screen Hadirkan Film Rumania Pertama yang Tembus Festival, hingga Tiga Besar Naskah Film Pendek Terbaik Karya Anak Bangsa

Antusiasme penonton mewarnai penutupan Europe on Screen (EoS) 2026 yang berlangsung di Cinepolis Senayan Park, Jakarta, pada 14 Juni 2026. Selama 11 hari penyelenggaraan, festival film Eropa ini hadir di delapan kota, yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, Semarang, Sidoarjo, dan Yogyakarta, serta mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pecinta film.


Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-26 bagi Europe on Screen. Selama lebih dari dua dekade, festival tersebut terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu jembatan pertukaran budaya antara Indonesia dan negara-negara Eropa. Melalui akses pemutaran yang dapat dinikmati secara gratis, publik Indonesia kembali diajak mengenal berbagai cerita, perspektif, dan pengalaman hidup yang hadir dari berbagai belahan Eropa.


Sebanyak 55 film dari 28 negara ditampilkan sepanjang festival berlangsung. Deretan karya yang diputar menghadirkan ragam tema dan latar budaya yang berbeda, mulai dari isu kemanusiaan, keberagaman, hingga potret kehidupan masyarakat Eropa masa kini.


Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menilai tingginya antusiasme penonton Indonesia menjadi salah satu hal yang menonjol selama penyelenggaraan festival tahun ini. Menurutnya, Europe on Screen tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya sinema Eropa, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya, kreativitas, serta hubungan yang terus berkembang antara Uni Eropa dan Indonesia.


Sebagai penutup festival, EoS 2026 menghadirkan Atlas of the Universe (Atlasul Universului), film coming-of-age asal Rumania yang mengikuti perjalanan seorang anak dalam memahami lingkungan di sekitarnya. Melalui sudut pandang yang hangat dan penuh rasa ingin tahu, film ini mengajak penonton melihat dunia dari perspektif seorang anak.


Film yang disutradarai oleh Paul Negoescu tersebut sebelumnya menjalani pemutaran perdana dunia di program Generation Kplus dalam ajang Berlin International Film Festival. Kehadirannya menjadi pencapaian tersendiri karena merupakan film Rumania pertama yang berhasil masuk ke program tersebut. Selain itu, Atlas of the Universe juga memperoleh Honourable Mention dari International Jury untuk kategori Best Film Generation Kplus. Salah satu anggota dewan juri kategori tersebut adalah Khozy Rizal.


Dalam sambutannya, Duta Besar Rumania untuk Indonesia, Dan Adrian Bălănescu, menyampaikan bahwa Atlas of the Universe mengingatkan pentingnya mempertahankan rasa ingin tahu, kejujuran, dan imajinasi dalam memandang dunia. Ia berharap film tersebut dapat mendorong audiens untuk melihat berbagai hal dengan perspektif yang lebih terbuka dan empatik.


Selain pemutaran film penutup, malam puncak Europe on Screen 2026 juga menjadi momen pengumuman pemenang Short Film Pitching Project (SFPP) 2026. Program ini merupakan inisiatif yang secara khusus ditujukan untuk mendukung perkembangan sineas muda sekaligus mendorong lahirnya cerita-cerita baru dari berbagai daerah di Indonesia.


Tahun ini, SFPP menerima 202 proposal yang kemudian diseleksi hingga menghasilkan sepuluh finalis terbaik. Para finalis mempresentasikan proyek film mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari Marlina Machfud, Asmara Abigail, serta Ifan Ismail.


Co-Director EoS 2026, Meninaputri Wismurti, mengatakan bahwa SFPP dihadirkan sebagai ruang belajar sekaligus wadah pengembangan bagi para pembuat film muda untuk memperluas jaringan profesional dan mengembangkan gagasan kreatif mereka.


Sementara itu, Co-Director EoS 2026, Nauval Yazid, menilai SFPP telah berkembang menjadi salah satu program penting dalam ekosistem Europe on Screen. Selama sembilan tahun berjalan, sejumlah film yang lahir dari program tersebut telah memperoleh kesempatan tampil dan mendapatkan apresiasi di berbagai festival film, baik di tingkat nasional maupun internasional.


Pada SFPP 2026, posisi pertama diraih Lunchtime Monsters karya Gerry Fairus dan Dhita Intani dari Jakarta. Dewan juri menilai proyek tersebut berhasil menggabungkan elemen horor dan fantasi untuk membahas berbagai isu sosial secara kreatif.


Posisi kedua ditempati Catatan Si Kumal karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya dari Sidoarjo. Proyek ini dinilai menawarkan pendekatan bercerita yang menarik dalam format film pendek serta memiliki potensi pengembangan yang menjanjikan.


Sementara itu, penghargaan ketiga diberikan kepada Karina in Male Dominated Field karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma dari Tangerang. Menurut dewan juri, proyek tersebut berhasil mengangkat isu kesetaraan gender dan male gaze melalui sudut pandang anak yang segar dan imajinatif.


Menutup penyelenggaraan tahun ini, Europe on Screen kembali menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan lintas budaya melalui sinema. Festival ini diharapkan terus menghadirkan cerita-cerita baru yang mampu memperluas perspektif, menghubungkan beragam pengalaman, serta mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman yang lebih dinamis di masa mendatang.

A

Ammara Meena

Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.

Artikel Terkait