Medan Perang di Perbatasan: Lasjkar di Tapal Batas dan Jejak Perjuangan di Kalimantan

Film “Lasjkar di Tapal Batas” yang dirilis pada tahun 2016 mengangkat kisah perjuangan pemuda Indonesia di perbatasan Kalimantan selama masa penjajahan Belanda. Disutradarai oleh Bayu Prayogo dan diproduksi oleh Bidar Batavia Group serta IVU Films, film ini menawarkan perspektif mendalam tentang konflik perbatasan Indonesia-Malaysia melalui lensa sejarah dan sinematografi yang kuat.

Medan Perang di Perbatasan: Lasjkar di Tapal Batas dan Jejak Perjuangan di Kalimantan

Cerita berfokus pada Tidjan, seorang pemuda yang sejak kecil menaruh kebencian terhadap penjajah Belanda. Setelah beberapa kali melakukan perlawanan bersama sahabat-sahabatnya, Tidjan akhirnya bergabung dengan sebuah lasjkar untuk melawan penjajah di perbatasan Kalimantan. Melalui perjalanan ini, penonton diajak menyelami semangat juang dan pengorbanan para pejuang muda dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.


Secara teknis, film ini berhasil menggambarkan suasana perbatasan Kalimantan dengan detail yang autentik. Pengambilan gambar di lokasi-lokasi yang mendekati kondisi sebenarnya menambah keaslian cerita. Selain itu, penggunaan dialek dan budaya lokal turut memperkaya narasi, memberikan penonton pengalaman yang lebih mendalam tentang kehidupan di perbatasan pada masa itu.


Namun, film ini tidak luput dari kritik. Beberapa penonton menyoroti alur cerita yang dianggap berjalan lambat dan pengembangan karakter yang kurang mendalam. Meskipun demikian, sebagai film independen pertama yang diangkat ke layar lebar dengan tema perjuangan di perbatasan, “Lasjkar di Tapal Batas” tetap mendapatkan apresiasi atas usahanya menghadirkan kisah sejarah yang jarang diangkat.


Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia memiliki akar sejarah yang panjang, dimulai sejak masa kolonial ketika Belanda dan Inggris membagi wilayah di Asia Tenggara melalui Perjanjian London tahun 1824. Perjanjian ini menetapkan batas pengaruh antara Belanda dan Inggris, dengan Belanda menguasai Nusantara dan Inggris menguasai Malaya serta Singapura. Namun, batas-batas ini tidak ditentukan secara rinci, terutama di beberapa wilayah darat dan laut, sehingga setelah Indonesia dan Malaysia merdeka, perbedaan tafsir terhadap batas warisan kolonial ini memicu berbagai sengketa. Salah satu sengketa terkenal adalah kasus Blok Ambalat, yang muncul akibat perbedaan persepsi mengenai batas wilayah laut antara Indonesia dan Malaysia.


Secara keseluruhan, “Lasjkar di Tapal Batas” menawarkan pandangan yang berharga tentang perjuangan di wilayah perbatasan Kalimantan. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi penonton tentang sejarah konflik perbatasan Indonesia-Malaysia. Bagi pecinta sejarah dan penikmat film nasional, karya ini layak untuk disaksikan dan diapresiasi. Bagi yang ingin menonton, “Lasjkar di Tapal Batas” dapat disaksikan melalui platform YouTube.


A

Admin Reeledupark

Penulis dan kontributor di Reel Edupark. Passionate tentang film, sinematografi, dan storytelling.

Artikel Terkait

Menelusuri Jejak Lokasi Ikonik Kyoto di Detective Conan Episode 927 dan 928
City On Screen
30 Aug 2026

Menelusuri Jejak Lokasi Ikonik Kyoto di Detective Conan Episode 927 dan 928

Detective Conan episode 927 dan 928 dengan judul The Scarlet School Trip (Kurenai no Shūgaku Ryokō), menjadi salah satu arc paling berkesan dalam sejarah anime ini. Selain menjadi moment resmi berseminya hubungan asmara antara Shinichi Kudo dan Ran Mouri, episode ini memanjakan mata penonton lewat penggambaran lanskap kota Kyoto yang sangat memikat. Bagi para penggemar yang ingin melakukan wisata, berikut lima lokasi nyata di Kyoto yang menjadi latar penting dalam petualangan Shinichi memecahkan misteri berdarah monster Tengu sekaligus memperjuangkan cintanya.

Menyoroti Realitas Pahit Dunia Kerja Lewat Drama Misaeng: Incomplete Life
Culture On Screen
16 Aug 2026

Menyoroti Realitas Pahit Dunia Kerja Lewat Drama Misaeng: Incomplete Life

Drama Korea bertema perkantoran umumnya lekat dengan kisah romansa antara atasan dan bawahan. Namun, serial Misaeng: Incomplete Life mengubah stereotip tersebut. Drama ini memilih untuk fokus murni pada realitas dunia kerja dan mengangkat berbagai isu sosial nyata yang seringkali dihadapi oleh para buruh korporat sehari-hari. Tanpa bumbu percintaan klise, drama ini justru berhasil menyentuh hati penonton karena ceritanya yang terasa sangat dekat dengan kehidupan.